Sesungguhnya sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang dijalannya, semangat dalam mereali-sasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya.
Keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada pemuda. Kerana sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Hal itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda

(Hasan Al-Banna)

Jul 14, 2011

Sosialisme, komunisme dan marhaenisme

Oleh : Yoe Volksrepubliek (Indonesian)

Orang akan keheranan demi membaca judul tulisan ini, saya yakin karena saya sendiri juga merasa heran ketika menulis trikogi sosialisme – komunisme – marhaenisme ini, sebab tidak mungkin berbicara tentang komunisme secara terpisah dengan sosialisme. Komunisme merupakan cabang dari sosialisme.

Memahami sosialisme harus juga dilihat atau dipelajari sejarah perkembangannya, sosialisme adalah reaksi atas liberalisme dan kapitalisme pada era industrialisasi yang menempatkan individu diatas masyarakat, sosialisme awal ini sering juga disebut sebagai sosialisme utopis yang berangan – angan tentang sebuah masyarakat yang hidup sejahtera tanpa ada satupun penindasan.

Sosialisme menemui tahap perkembangan dalam sejarahnya dengan kehadiran Karl Marx yang menyumbang teori materialism dialektisnya yang lebih mempertegas analisis sosial kaum sosialisme. Marx mengklaim sosialisme tahap ini sebagai sosialisme ilmiah yang tidak lagi hanya berangan – angan tentang sebuah masyarakat sejahtera, juga lebih dari sekedar bagaimana menuju masyarakat tersebut yaitu dengan menjawab ketimpangan sosial akibat kapitalisme dan liberalism.

Menurut Marx, kehidupan masyarakat tanpa klas akan terwujud dengan revolusi yang digelar oleh kaum proletar, revolusi inilah yang disebutnya juga sebagai lonceng kematian bagi kapitalisme. Bagi Marx, karena kontradiksi – kontradiksi dalam sistem kapitalisme sendiri yang akan melahirkan proletariat.

Pada tahap selanjutnya, sosialisme ilmiah inipun mengalami beragam revisi, sebut saja disini dengan revisi yang dilakukan oleh Lenin yang berhasil menciptakan sebuah ‘cetak biru’ bagi teori Karl Marx, sosialisme ilmiah yang telah akrab dengan istilah marxisme di revisi menjadi Marxisme – Leninisme selanjutnya kita kenal dengan istilah komunisme.

Dengan marxisme – leninisme sebagai cetak biru pemerintah Uni Soviet tanpa ragu – ragu melakukan eksperimen paling berdarah dalam sejarah umat manusia. Kurang lebih 20 juta warga Uni Soviet tewas dalam melaksanakan rekayasa raksasa ini.

Di tangan Lenin munculnya Marxisme – Leninisme menjadi sebuah imperium dengan internasionale yang menyerukan berdirinya partai komunis di setiap negara di dunia dibawah pengawasan Uni Soviet.

Seruan Lenin ini juga berdampak pada situasi politik Indonesia, dimana satu – satunya organisasi politik Indonesia kala itu, SI terpecah menjadi dua dalam faksi komunis yang dipimpin Tan Malaka dan Semaoen, dan faksi dibawah pimpinan H. Agus Salim. Dari sinilah awal dari munculnya embrio PKI, yang pada akhirnya Tan Malaka sendiri memilih untuk keluar dari tubuh partai ini akibat percobaan revolusi yang digagas oleh orang – orang PKI, dan Tan Malaka sendiri pada akhirnya harus mati – matian memusuhi partai ini.

Apa yang sedang terjadi dalam organisasi pergerakan Indonesia ini ternyata juga mendapat perhatian dari seorang pemuda revolusioner yang terang – terangan mengagumi ajaran Marxisme, Soekarno yang dalam tulisannya disurat kabar “Suluh Indonesia Muda” tahun 1926 mengatakan, sekalipun ajaran Marx sangat sukar dipahami oleh kaum yang pandai dan terang fikirnya, tetapi amatlah mudah dimengerti oleh kaum yang tertindas dan sengsara (Soekarno, 1964; hal. 15).

pada bagian lain tulisannya juga menyoroti situasi yang terjadi dalam tubuh SI, bagi Soekarno, pergerakan nasionalisme, mengingkari pergerakan marxisme di Indonesia ini mengingkari sifat pergerakan yang berasaskan ke Islaman. Kaum marxis dalam tulisan ini rupanya ditujukan kepada Tan Malaka dan Semaoen yang dianggapnya telah memulai pertengkaran diantara kawan.

Bagi seorang seperti Soekarno yang telah terbentuk pikirnya oleh keadaan, sosialisme Eropa tidaklah sama yang dihadapi dengan keadaan yang terjadi di Indonesia, memang sosialisme di negara – negara Eropa muncul dari revolusi industri, sedangkan Indonesia rakyatnya menderita akibat penjajahan kolonial.

Bagi Soekarno, masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat industrialis, masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris yang dimiskinkan oleh kapitalisme dan kolonialisme. Jadi Sosialisme Indonesia sebagai saluran pembebasan haruslah sosialisme yang berangkat dari suara hati rakyat Indonesia.

Dari sini muncul satu lagi cabang sosialisme, sosialisme yang direvisi oleh Soekarno yang ia sebut Marhaenisme atau dalam kesempatan lain adalah sosionasionalisme.

Soekarno menjadi satu pribadi unik dengan munculnya ideologi ini, ia mencoba menyatukan tiga kutub pandangan politik yang bertolak belakang satu sama lain menjadi satu teori ideologi dan politik, yaitu penyatuan kelompok agama, kelompok nasionalis dan kelompok komunis. Sebuah proyek raksasa yang mustahil.

Komunis dan agama sudah cukup jelas tidak dapat didamaikan dengan penolakan eksistensi Tuhan oleh kaum Komunis, begitu pula dengan kaum nasionalis dimana komunisme lebih mendasarkan diri pada internasionalismenya. Dalam hal ini Soekarno nampaknya berpedoman pada pendapat H. Agus Salim yang menjawab argument Tan Malaka, bahwa Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan sosialisme sejak seribu dua ratus tahun yang lalu (Anonimus, 1994; hal. 7-11).

Sosialisme Soekarno ini lebih menekankan pada watak nasionalisme dan demokrasinya, nasionalisme yang dipilih Soekarno adalah nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme yang menerima rasa hidupnya sebagai wahyu dan menjalankan rasa hidupnya itu sebagai bakti, nasionalisme yang juga memberikan rasa cinta kepada bangsa lain dan tidak menghendaki adanya penindasan bangsa oleh bangsa. Nasionalisme yang kedua dua kakinya ada dalam masyarakat.

Demokrasi yang dipilih Soekarno berbeda dengan demokrasi barat, yang ia maksudkan adalah demokrasi yang bukan demokrasi liberal atau demokrasi parlementer yang ia nilai hanya bersifat politik, individualis dan mengabaikan ekonomi masyarakat. Soekarno pernah berkata “jikalau kita betul – betul ingin mendasarkan negara kepada paham kekeluargaan, paham tolong – menolong, paham gotong royong dan keadilan sosial, enyahkan tiap – tiap pikiran, tiap – tiap paham individualisme dan liberalisme”.

Perbedaan mendasar antara marhaenisme dengan komunisme terletak pada ‘apa yang harus dilakukan setelah revolusi berhasil?’, komunisme mendambakan suatu tipe masyarakat dimana kekayaan diserahkan kepada komunitas dengan asas ‘sama rasa sama rata’, dan lenyapnya eksistensi negara berganti masyarakat komunal sebagai tahap akhirnya. Sedangkan marhaenisme nampaknya lebih condong kepada Sosialisme demokrat dengan masih mengakui dan perlunya sebuah organisasi pemerintahan. cukup jelas dengan pertentangan kaum nasionalisme dengan komunisme.

Marhaenisme juga merupakan representasi masyarakat Indonesia dari keadaan tertindas, masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang religius berbeda dengan komunisme yang menolak eksistensi Tuhan. Sosialisme yang diberi nama marhaenisme ini juga menekankan pada perjuangan secara revolusioner, jadi juga tidak sama seperti sosialisme demokrat yang lebih memilih jalur diplomasi dalam parlemen.

Soekarno seakan lebih memilih untuk melihat pengalaman empirisnya dalam merumuskan sebuah jalan perjuangan menuju Indonesia merdeka dengan tetap melakukan dialektika teori tentang sosialisme untuk mengadaptasinya terhadap kondisi masyarakat Indonesia.

daftar pustaka: Yulianto sigit wibowo, 2005, Marhaenisme ideologi perjuangan Soekarno, Buana Pustaka, Yogyakarta.
K. Bertens, 2005, Perspektif Etika, Kanisius, Yogyakarta
Franz Magnis – Suseno, 2005, Dalam bayang – bayang Lenin, enam pemikir Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
M. Romdon, Menyimak ide BK di tengah konflik elite, Jawapos, Senin 28 mei 2001
Andi Muawiyah Ramly, 2004, Peta pemikiran Karl Marx, LKiS, Yogyakarta

No comments: